Selasa, 08 Mei 2012

Masa Revolusi Industri dan Transportasi pada Sejarah Inggris Dahulu

Di dalam ilmu psikolinguistik terdapat suatu teori yang bernama teori Behavioristik. Teori behavioristik dalam beberapa sumber buku menjelaskan bahwa behavioristik merupakan suatu teori yang memahami tentang perubahan tingkah laku manusia yang di hasilkan dari segala pengalaman yang di dapat oleh manusia tersebut. 


Behaviorist Models
Dalam masa kejayaan behaviorisme di tahun 1950,Peneliti mencoba untuk mencatat pengembangan fonologi anak anak dengan menggunakan mekanisme dari imitatsi dan penguatan (penengasan). Diliat dari catatan tersebut bayi memproduksi suara mereka karena mereka menikuti suara yang mereka dengan dan mereka menerima dukungan positif untuk melakukannya, seiring waktu, suara bayi yang keluar lama lama akan meyamakan target language, karena itu adalah suara yang telah mereka tiru dan juga yang telah diperkuat.
Penjelasan tersebut memiliki beberapa masalah. Pertama, hal tersebut mengabaikan peran proses pematangan dalam catatan perubahahan suara repertoar bayi. Beberapa suara Beberapa suara terlihat menjadi penampilan terakhir dalam ocehan anak-anak karena mereka sulit untuk memproduksinya, bukan karena anak-anak tidak ada penguatan untuk menghasilkan tersebut, Hal ini membawa kita ke Permasalahan kedua , behaviorist, bahwa orang tua tidak secara selektif memperkuat bunyi suara. Banyak orang tua yang mengekspresikan kegembiraan di setiap burb dan ketidaksukaan atas suara yang keluar dari sang bayi, dan dan anak-anak memperoleh fonologi dari bahasa sasaran tetap. Meskipun bayi-bayi juga dapat burb dan membuat raspberry (rasa ketidaksukaan) dengan frekuensi tinggi, yang tampaknya tidak mempengaruhi pengembangan fonologi mereka
Masalah yang paling serius yang datang dari catatan behaviorism. Bagaimanapun kenyataannya perkembangan ponologi itu lebih dari sekedar perkembangan repertoar suara. Itu adalah perkembangan sebuah sistem keteraturan (seperti aturan asimilasi suara), dan muncul untuk mengetahui relasi antara suara tersebut (seperti mengetahui keseimbangan suara / d / adalah / t /) Pengetahuan ini bukanlah pengetahuan sadar dan tidak tersedia untuk reinforced. Karena dari catatan behaviorist, perkembangan fonologi, dan perkembangan bahasa lebih umum, di umumnya dioperasikan dengan pengertian fundamental yang salah, apa pengetahuan bahasa dan perkembangan bahasa. Catatan behaviorist tidak mengambil serius untuk waktu yang cukup lama, meskipun banyak masalah yang belum terselesaikan terkait bagaimana anak-anak memperoleh fonologi bahasa mereka,tampak setiap orang setuju bahwa behavioris tahun 1950an bukan kandidat yang baik dalam penjelasan.
keputusan yang agak keras dari behaviorisme tidak boleh dianggap untuk mengartikan menanggapi bayi'' vokalisasi tidak memiliki pengaruh; tetapi iya. Bornstein and Tamis-LeMolda (1989) mendapati bahwa bayi bersuara lebih banyak jika mereka memiliki ibu yang sangat responsif terhadap vokalisasi bayi tersebut. . Oller, Eilers, Bassinger, Steffens, and Urbano (1995) menemukan bahwa bayi hidup dalam kemiskinan yang ekstrim, yang cenderung kurang mendapatkan stimulasi lisan daripada bayi lebih beruntung (Hart & Risley, 1995) juga cenderung menghasilkan ocehan sedikit. Rheinghold, Gewirtz and Ross (1959) menunjukkan eksperimen bahwa tersenyum dalam menanggapi vokalisasi bayi menyebabkan bayi untuk bersuara lebih. Temuan lain menunjukkan bahwa ibu dapat mendorong perkembangan bahasa anak-anak mereka dengan menanggapi kontinjensi pada prelinguistik vokalisasi bayinya (Velleman, Mangipudi, & Locke, 1989). Dengan demikian, lingkungan yang responsif itu tampaknya untuk mendukung perkembangan vokal dan mungkin juga membantu kelanjutan perkembangan bahasa (cara lain yang respon orang tua pada anak-anak mereka dan tidak mempengaruhi perkembangan bahasa, akan dipertimbangkan dalam bab-bab selanjutnya).
Masalah behaviorisme bukanlah bahwa hal itu salah, tetapi hal itu tidak cukup. Sebuah teori perkembangan fonologi perlu untuk menjelaskan mengapa perkembangan itu mengikuti jalur tesebut (dilihat dari jalan lain yang berlawanan), dan hal terserbut perlu untuk menjelaskan bagaimana pencapaian akhir dari fonologi suatu bahasa adalah mungkin.

Biologically Basic Models
Beberapa penelitian berpendapat secara persuasif bahwa faktor biologis membentuk kedua proses perkembangan fonologi dan hasil-utamanya yaitu, sifat fonologis dalam bahasa di dunia. Menurut Locke (Locke & Pearson, 1992), suara bayi adalah suara alat vokal manusia yang paling cenderung untuk memproduksi, yang diberi karakteristik anatomi dan fisiologis. Produksi suara terbentuk oleh kemampuan motorik, dan perkembangan produksi suara dibentuk oleh perkembangan kemampuan motorik. Dasar biologis pada perkembangan vocal ini adalah alasannya. Menurut Locke (1983, 1993) bagi repertoar suara awal yang mirip anak anak mendapat target bahasa yang berbeda.
Faktor biologis yang sama yang membentuk perkembangan fonologi dapat membentuk bahasa orang dewasa juga. Suara yang muncul pada awal produksi vokal bayi, juga merupakan suara umum yang sering terjadi di antara bahasa di dunia, dan suara yang dihasilkan di akhir proses perkembangan cenderung langka dalam bahasa di dunia. Contohnya, /m/ adalah phonem umum. Kebalikannya, bagi American /r/ adalah suara yang menyebabkan kesulitan bagi anak-anak, bahkan pada tahun-tahun sekolah, dan suara ini merupakan fonem yang hanya sekitar 5% dari bahasa di dunia. Argumen yang terkait dibuat oleh Donegan dan Stampe (1979), yang menyatakan bahwa proses fonologi pekerja anak muda juga terlihat dalam proses yang digunakan dalam bahasa orang dewasa. Misalnya, anak umumnya bersuara untuk mengganti konsonan suara di ujung kata-kata, seperti pronunciation bad /baet/, dan banyak bahasa memiliki aturan bahwa konsonan yang bersuara diucapkan tanpa suara sebagai mitra mereka dalam kata final posisi, contoh ; knive-knife, leave-leaf (Vilman, 1988).
Meskipun tidak ada yang akan berpendapat bahwa kapasitas motor dan perkembangannya tidak relevan dengan fonologi dan perkembangan fonologi, penelitian tidak setuju tentang pentingnya biologi dibandingkan dengan pengalaman bahasa. Pengaruh lingkungan bahasa dari suara yang dihasilkan dalam awal babbling adalah masalah bagi beberapa controversy ( Oller & Eilers, 1998) tetapi tidak juga nol. Terdapat juga bukti bahwa bagaimana pengaruh suara-suara yang digunakan dalam bahasa target yang terdengar umum pada kata awal anak-anak (Ingram, 1988; Pye, Ingram & List, 1987). Akhirnya, tidak ada keraguan bahwa bahasa yang ada dilingkungan sekitar mempunyai pengaruh pada diskriminasi bunyi bahasa awal (Kuhl et al., 1992; Werker &Tees,m 1984). Jaadi, catatan perkembangan fonologi juga harus menjelaskan bagaimana pengalaman menimb efek tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar